Sabtu, 22 Agustus 2009

PETAK-PETAK PENDIDIKAN

Ia tertatih di jalan,
nan luas tanpa ambang
Jalan yang dibandrol mahal
Karena diklaim sebagai jalur masa depan

Jalur itu berpetak-petak
Karena pupuk yang akan ditaburkan beda rasa
Itu kata mereka!
Mereka yang sok menyuarakan pendidikan harus merata

Ayahnya tak kan mampu membeli
Membeli mimpi-mimpi pahlawan kecilnya
Mimpi yang bukan sekadar kembang
Mimpi yang tak bisa diraup dengan ribuan

Ibunya tak kan pernah sanggup menyuap
Menyuap si perut gendut berseragam pimpinan
Yang bersahabat karib dengan pecundang kebijakan
Kebijakan itu lentur,
Kanan dianggap benar,
Kiri pun tanpa sortiran!


OBRAL IJAZAH

Ada sekumpulan pedagang
Tengah termangu
Menunggu datangnya hujan
Karena basahnya akan jadi ladang nan subur
Bagi dapurnya yang harus terus mengepul

Lembaran kertas sakti itu diobral!
Pada kerumunan tikus pencari kursi
Kursi yang empuk
Dan kebal akan virus demokrasi

Kejujuran terkoyak,
Oleh stempel dan ayunan tanda tangan
Harga diri hangus,
Oleh api bangga akan pujian

Makna deretan gelar,
Yang mengelilingi nama
Hanya untuk penghias kolong sempit
Yang jadi singgasana

Penulis: Santi Utami

dimuat di Harian SOLOPOS - 2009

Senin, 17 Agustus 2009

WARUNG KEJUJURAN

Panggung itu bak warung pinggiran
Walau kumuh namun lezat bukan kepalang
Tak sedikit yang tergoda
Mencicipi nikmatnya rasa

Pengunjung datang bergantian
Tak jarang cuma gratisan
Atau malah karena tawaran
Dari bos yang berkantong tebal

Korupsi hidangan wajib tiap hari
Manipulasi santapan khas warung ini
Sayang justru tak sedia makanan inti
Menu kejujuran yang sedang laris dicari


MENIKMATI KEJAHATAN

Ada nyonya kaya raya
Sibuk memulas wajahnya
Agar manis di depan jaksa
Mungkin coba mencari celah
Bagi kasusnya yang bikin muntah

Menurutnya di bui biasa saja
Asal jangan mati gaya
Anggap saja sedang di vila
Kalau perlu bikin salon pribadi
Lengkap dengan creambath dan spa

Penulis: Santi Utami

di muat di Harian SOLOPOS, 19 Juli 2009

Minggu, 26 April 2009

SEPEDA HELENA

Matahari sudah beranjak naik ketika Helena dengan terburu-buru keluar dari kamar mandi. Penyebabnya apalagi kalau bukan bangun kesiangan. Dengan cepat dia meraih baju seragam yang terletak pada gantungan baju di belakang pintu kamarnya. Seragam merah putih itu dengan tergesa-gesa dikenakan sambil sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.45. Berarti Helena cuma punya waktu seperempat jam untuk sampai di sekolah apabila tidak ingin terlambat. Setelah selesai memakai sepatu, segera saja dia menyambar tas dan topi merahnya.
“Ma, Helen berangkat!” teriaknya sambil berlari ke belakang rumah, tempat sepedanya ditaruh.
“Sarapan dulu, Nak!” perintah mamanya.
“Udah mau telat nih!” katanya sambil bersiap menaiki sepeda mininya.
“Hati-hati Nak!” teriak mamanya yang geleng-geleng kepala melihat anak kesayangannya itu melesat secepat kilat menuju sekolahnya.
Helena mengayuh sepedanya sekuat tenaga, di kepalanya terbayang jam pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran matematika. Dia tidak ingin terlambat mengikuti pelajaran favoritnya itu. Sementara dalam hati, dia sangat menyesal karena tadi malam tidak menghiraukan perintah mama untuk segera tidur. Helena malah asyik nonton acara musik di televisi hingga pukul 21.00, akibatnya pukul 06.30 dia baru bisa membuka matanya setelah beberapa kali dibangunkan mama.
Helena tiba di gerbang sekolah bersamaan dengan bunyi bel tanda pelajaran akan segera dimulai. Dia agak panik dan segera memasuki halaman sekolah yang ramai oleh anak-anak lainnya yang berlarian menuju kelas. Tiba-tiba Helena berhenti di bawah pohon mangga di sebelah kelasnya. Dia memarkir sepedanya di bawah pohon mangga dan segera masuk ke dalam kelas. Padahal di sekolah Helena sudah disediakan tempat sepeda siswa yang terletak di bagian belakang gedung sekolah.
Pukul 12.15 bel berbunyi tanda pelajaran usai. Siswa-siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Ada anak yang langsung berlari ke gedung sekolah karena sudah ditunggu orangtua yang datang menjemput, adapula yang berlari ke belakang gedung sekolah untuk mengambil sepeda dan segera pulang. Berbeda dengan teman-temannya, Helena berjalan santai menuju sepeda yang diparkirnya di bawah pohon, sambil berpikir bahwa parkir di bawah pohon lebih enak daripada di tempat sepeda karena tidak perlu berdesak-desakan saat mengambilnya setelah bel tanda pulang berbunyi.
“Aaaagggghhhhh...” tiba-tiba Helena menjerit. Teman-temannya yang kebetulan lewat di sekitarnya menoleh mendengar jeritannya.
“Ada-apa...ada apa...” tanya teman-temannya hampir bersamaan sambil berlari menuju Helena yang berdiri dengan muka pucat.
“It...itu...itu...” kata Helena ketakutan sambil menunjuk-nunjuk sepedanya. Ternyata ada dua ulat berbulu yang menempel di sadel dan stang sepedanya. Mungkin ulat itu jatuh dari pohon ke sepeda Helena yang diparkir di bawahnya.
Untung ada kakak kelasnya yang membantu membuang ulat itu dengan sebatang kayu. Helena pun lega dan berjanji akan mematuhi peraturan dengan memarkir sepedanya di tempat yang seharusnya. Sambil mengayuh sepedanya menuju rumah, Helena juga berjanji tidak akan tidur terlalu malam lagi agar pagi harinya tidak bangun kesiangan sehingga tidak tergesa-gesa berangkat ke sekolah.

Penulis: Santi Utami

dimuat di harian SOLOPOS '2008

NILAI EDUKATIF DALAM KARYA SASTRA

Karya sastra mempunyai nilai-nilai yang bersifat mendidik baik yang tersirat (makna) maupun yang tersurat. Dengan membaca karya sastra diharapkan pembaca mampu menemukan nilai-nilai kehidupan dalam bermasyarakat. Namun nilai dalam karya sastra tidak dapat diperoleh begitu saja, tetapi harus melalui pemahaman yang tinggi.
Wawasan yang terkandung dalam karya sastra akan selalu berhubungan dengan bermacam-macam nilai kehidupan yang bermanfaat bagi pembaca. Nilai kehidupan akan ditemukan setelah memahami suatu peristiwa yang akan menjalin cerita serta mengambil kesimpulan dari dalamnya, atau mungkin lewat pernyataan dan komentar yang secara eksplisit ditampilkan oleh pengarang.
Karya sastra mengandung suatu hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat atau peradaban dan kebudayaan, maka dikatakan karya sastra tersebut mengandung nilai kultural. Karya sastra akan mengandung nilai-nilai agama, sosial, estetis, dan moral, jika dalam karya sastra terpancar ajaran-ajaran tentang kebaikan dalam berpikir dan bertindak. Manfaat-manfaat itulah yang disebut dengan nilai edukatif.
Untuk memperoleh nilai didik tersebut salah satu usaha yang paling tepat, yaitu mengapresiasi karya sastra. Dengan membaca, memahami, dan merenungkan karya sastra, kita akan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari apa yang telah kita baca.
Nilai edukatif yang terdapat dalam karya sastra, antara lain: nilai edukatif agama, nilai edukatif sosial, nilai edukatif estetis, dan nilai edukatif moral. Keempat nilai tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1)Nilai Edukatif Agama
Mangunwijaya mengemukakan bahwa agama lebih menunjuk pada lembaga kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi religiusitas atau totalitas kedalaman pribadi manusia kepada Tuhan. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi, lebih mendalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal, dan resmi.
Nilai agama menjunjung tinggi sifat-sifat manusiawi, hati nurani yang dalam, harkat dan martabat serta kebebasan pribadi yang dimiliki oleh manusia. Nilai agama sifatnya mutlak untuk setiap saat dan keadaan. Semua manusia yang beragama yakin dan percaya karena ajaran agama merupakan petunjuk hidup yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Sudah menjadi kewajiban manusia sebagai hamba untuk selalu tunduk dan taat pada aturan-Nya. Bagi manusia yang beragama dan beriman, nilai ini dijadikan dasar atau pijakan utama dalam mencapai tujuan hidupnya. Hal ini sifatnya universal bagi semua ajaran agama. Pemahaman nilai agama yang tinggi akan menjadikan manusia saling mengasihi.
2)Nilai Edukatif Sosial
Sastra sebagaimana halnya dengan karya seni yang lain, hampir setiap zaman memegang peranan penting, karena ia hampir selalu mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan terutama ditengah-tengah kehidupan modern yang ditandai dengan adanya kemajuan teknologi. Jadi, dengan membaca karya sastra diharapkan perasaan kita lebih pada tahap persoalan-persoalan kemanusiaan, lebih dalam penghayatan sosialitas dan lebih mencintai kebenaran dan keadilan.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro yang menyatakan bahwa banyak karya sastra yang bernilai tinggi, yang di dalamnya menampilkan pesan-pesan moral, biasanya lahir di tengah-tengah masyarakat yang dilihat atau dirasakan oleh pengarang. Pengarang umumnya tampil sebagai pembela kebenaran dan keadilan, ataupun sifat-sifat luhur kemanusiaan yang lain.
Kesadaran terhadap nilai-nilai sosial akan membawa manusia pada kesadaran bahwa dalam hidup dia tidak akan lepas dari bantuan orang lain. Kesadaran itu mutlak diperlukan agar dalam setiap tindakan memiliki batas-batas tertentu dan selalu mengukur semua perbuatan dengan kacamata kemanusiaan. Ukuran tindakan manusia sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan, bukan berapa besar tindakan itu menguntungkan dirinya, melainkan berapa jauh tindakan itu menguntungkan serta menyempurnakan kemanusiaan masyarakat lain di sekitarnya.
3)Nilai Edukatif Estetis
Karya sastra, pada hakikatnya mengandung nilai estetika atau keindahan. Karya sastra disamping menunjukkan sifatnya yang kreatif, juga merupakan penerang yang mampu memimpin manusia mencari nilai-nilai yang dapat menolongnya untuk menemui hakikat kemanusiaan yang berkepribadiaan. Karya sastra mempunyai kandungan amanat spiritual yang membalut estetika.
Karya sastra mengandung nilai estetika sebagai bentuk pendidikan keindahan yang bertujuan mendidik seseorang agar dapat merasakan, menikmati, dan mencintai segala sesuatu dengan norma-norma keindahan. Hal ini sejalan dengan sifat karya sastra yang dulce et utile, bahwa setiap karya sastra selain indah juga harus memberikan manfaat.
4)Nilai Edukatif Moral
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Karya sastra senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia.
Moral identik dengan agama, sosial, serta nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam masyarakat. Pendidikan moral itu sendiri terkait erat dengan budi pekerti yang tercermin melalui tingkah laku seseorang. Karya sastra yang dinikmati oleh banyak kalangan bertujuan mempengaruhi pembaca, sehingga karya sastra yang baik tentunya mampu memberikan pengertian yang baik pula.

Penulis: Santi Utami

'dimuat di Majalah Pendidikan DERAP GURU JATENG'
AKIBAT SOK GAYA

Perbuatan pamer, entah bagaimanapun cara dan apapun tujuannya memang bisa membuat orang yang melihatnya menjadi sebal. Apalagi yang tujuannya hanya untuk gaya-gayaan saja. Bahkan apabila tidak berhati-hati justru akan membuat malu sendiri, layaknya senjata makan tuan. Hal tersebut juga terjadi disalah satu kost yang ada di kota Solo. Teman-teman saya yang menjadi salah satu penghuninya merasa sangat sebal dengan teman kostnya yang bernama Andhika. Hingga suatu hari karena saking sebalnya, mereka rame-rame membalas dengan keisengan mereka.
Begini yang diceritakannya kepada saya, Andhika seorang mahasiswa jurusan Seni Rupa di Solo yang lagaknya minta ampun. Karena rumahnya di Yogyakarta, maka dia memilih kost di belakang kampusnya. Sudah menjadi kegiatan rutin anak-anak kost di situ, tiap sore mereka bermain sepakbola, apalagi ada kebun milik tetangga kost yang sudah disulap menjadi lapangan bola mini.
Selesai bermain sepakbola, mereka biasanya langsung nongkrong di teras kost sekaligus menunggu bedug Mahgrib. Sore itu sambil istirahat, Andhika mengutak-atik HP seri terbarunya yang sudah beberapa hari ini selalu ditenteng kemana-mana. Tiba-tiba dia berlagak menerima telepon, sambil senyum-senyum dan berbicara cukup keras: “Ohhh...ya sayang, aku habis main bola nih, biasa nyari keringat...!...oke ntar aku jemput jam 7 ya...ahh, kemana aja terserah kamu, apa sih yang enggak buat kamu, hehehehe...”
Sambil terus mendengar Andi nerocos bicara lewat hp itu, teman-teman kost yang duduk di dekatnya menjadi terheran-heran sendiri, lha wong tidak ada bunyi dering hp kok tiba-tiba si Andhika nerima telepon. Iseng-iseng, si Seno, temanku yang didukung teman-teman kost lainnya mencoba menelepon ke no hp milik Andhika dan tiba-tiba “tett..tett..tett..” terdengar nyaringnya ringtones dari hp Andhika. Teman-teman kostnya pun langsung tertawa terbahak-bahak, kalau memang sedang untuk menerima telepon sungguhan tentunya hp Andhika tidak bisa dihubungi atau terdengar nada sibuk.
Mendengar hpnya berbunyi Andhika malah bingung sendiri dan langsung merah padam mukanya. Oalaah, ternyata Andhika cuma pura-pura bergaya seolah-olah ada cewek yang sedang meneleponnya.
Hahahahahaha...

Penulis: Santi Utami

'dimuat di majalah GENTA, 5-19 Mei 2008'

Judul : Pilkadal di Negeri Dongeng
Pengarang : Tundjungsari
Penerbit : Afra Publishing, Indiva Media Kreasi
Edisi : Cetakan Pertama, September 2007
Tebal : 168 halaman

POTRET DUNIA POLITIK INDONESIA

Dunia politik adalah dunia yang tidak pernah tidur. Orang yang akan terjun ke dunia itu, harus siap mengerahkan seluruh pikiran dan energi hampir 24 jam. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk dapat survive di dunia politik membutuhkan materi yang tidak sedikit. Herannya, banyak orang yang berbondong-bondong terjun kesana. Entah apa yang sedang dicari, mungkin kursi “terhormat” atau mungkin sekedar bangga berjuluk politikus. Yang jelas, hanya bermodal nekat dan mengandalkan janji-janji, mereka siap melenggang menuju podium semu.
Hal tersebut pula yang coba digambarkan dalam novel “Pilkadal di Negeri Dongeng” karya Tundjungsari ini. Novel ini berusaha memotret kondisi politik suatu negeri yang carut marut. Tidak dapat disangkal bahwa isi cerita, penokohan, amanat, maupun contoh kasus serta intrik-intrik politik yang disajikan merupakan gambaran nyata dari keadaan yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir.
Bagian prolog (kocap kacarito) mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah negeri dongeng. Negeri yang subur, memiliki kekayaan tambang dan laut, serta komoditi pariwisata yang sangat potensial. Namun, sebagian besar rakyatnya masih bergelut dengan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Hal tersebut merupakan sebuah anomali, dimana orang kaya semakin kaya dan rakyat miskin semakin miskin. Pergantian pemimpin seolah tidak memberi imbas positif bagi kehidupan rakyatnya.
Novel terbitan Afra Publishing ini menceritakan gegap gempitanya proses pilkadal disalah satu kabupaten di negeri dongeng, yaitu kabupaten Antah Berantah. Kabupaten yang saat ini masih dipimpin oleh bupati yang (lagi-lagi) mempunyai karakter mirip dengan sebagian pejabat di Indonesia. Bupati Suryo Buwono digambarkan sebagai tokoh yang sangat “menikmati” kekuasaan yang sedang digengamnya. Aksi suap menyuap, obral proyek, “berteman” dengan dunia klenik, hingga usaha-usaha emperkaya diri sendiri sudah menjadi rutinitas selama menjabat. Seperti halnya kebanyakan pejabat saat ini, sang bupati juga tidak tinggal diam saat masa jabatannya akan segera berakhir. Belum puas atau bahkan tak rela “kursi”nya diduduki orang lain, segera dia pasang badan dan berkoar siap kembali menjadi bupati periode selanjutnya.
Tundjungsari, penulis buku ini, secara cerdas memotret pula menjamurnya partai-partai politik saat ini. Banyak partai politik yang hanya meneriakkan janji dan visi misi. Bahkan beberapa partai politik hanya mengandalkan figur tokoh tertentu yang menjadi ketua umumnya. Ada pula partai politik yang sok idealis, sok welcome pada semua golongan, etnis, agama, dan usia, hingga yang mengklaim diri sebagai “peri” bagi rakyat kecil.
Banyak sekali hal lain yang sedang in di masyarakat saat ini tak luput dari bidikan kritis Tundjungsari. Hal tersebut misalnya:
1. Banyak orang yang saat ini berlomba-lomba menjadi selebritis, walau hanya bermodal tampang, suara pas-pasan, bahkan hanya dengan sedikit akting banyolan. Mereka ingin kaya dan mabuk popularitas lewat “jalur tol” yang saat ini banyak ditawarkan stasiun-stasiun televisi.
2. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai buruh. Hal tersebut akibat dari rendahnya tingkat pendidikan, sehingga mereka bekerja dengan mengandalkan otot (tenaga) bukan otak (pikiran). Maka jangan tanya berapa gaji yang diterima, cukup untuk makan saja rasanya sudah sangat bersyukur.
3. Masih banyaknya masyakarat yang percaya dengan dunia ramal meramal. Mungkin karena tekanan hidup yang semakin berat, masyarakat mulai ragu dengan kelangsungan hidup atau masa depan mereka, sehingga bantuan ramalan nasib atau terawang masa depan seolah-olah dapat dijadikan jalan keluar. Ternyata kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh beberapa peramal (yang mengaku pandai meramal) nasib. Mereka mencoba membuat proyek bisnis dengan menerima jasa ramalan via sms dengan tarif premium. Parahnya mereka mengiklankan jasa tersebut melalui televisi yang notebene ditonton pemirsa dari segala usia. Aduuuuh…
Novel ini juga memberi contoh positif lewat tokoh Tugino dan Slamet. Dua orang kepala keluarga yang harus menjalani kehidupan yang keras sejak kecil. Tugino memberi contoh bagaimana masyarakat harus punya prinsip pantang menyerah. Ia berhasil mengolah kerajinan tangan berbahan enceng gondok menjadi cenderamata. Sedangkan Slamet, digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan ikhlas menerima cobaan hidup yang datang pada waktu yang berdekatan. Diantara gempuran krisis multidimensional, sifat dan sikap orang-orang seperti tokoh Tugino dan Slamet memang sudah jarang ditemui.
Secara keseluruhan, inti cerita dalam novel ini mengambarkan upaya-upaya politik yang dilakukan oleh tiga pasang calon bupati dan wakil bupati kabupaten Antah Berantah dengan berbagai cara.

Penulis: Santi Utami

'Pemenang III Lomba Resensi Indiva Media Kreasi 2008'

Sabtu, 04 April 2009

RESENSI BUKU: THE FOUR FINGERED PIANIST


Judul : The Four Fingered Pianist
Pengarang : Kurnia Effendi
Penerbit : Hikmah Jakarta
Edisi : Cetakan 1, Februari 2008
Tebal : xxv + 228 halaman

KEMENANGAN SEMANGAT DAN KASIH SAYANG

“Saat kita menerima keterbatasan, saat itulah kita melampauinya.” (Albert Einstein)

Kata-kata bijak di atas tentu dapat dijadikan cambuk yang luar biasa bagi perjalanan hidup manusia. Keterbatasan yang kita miliki sudah selayaknya dijadikan “teman” dalam mengarungi kehidupan. Oleh karena itu, sebagai “teman” yang baik, kita harus merangkul dan menerima keterbatasan sebagai anugerah yang patut disyukuri.
Bayangkan bila telinga kita dapat mendengar setiap detak jantung atau tarikan nafas, alangkah berisiknya dunia! Bayangkan pula bila mata kita sanggup melihat bakteri atau binatang renik, mungkin di setiap tempat yang dianggap bersih pun, kita akan menemukan jutaan bakteri yang sangat menjijikkan.
Buku The Four Fingered Pianist memotret sketsa-sketsa nyata “persahabatan” menakjubkan seorang gadis Korea Selatan bernama Hee Ah Lee dengan keterbatasan fisik yang dianugerahkan kepadanya sejak lahir. Gadis penderita Lobster Claw Syndrome yang mampu memainkan tujuh belas komposisi lagu, dua belas diantaranya repertoar piano klasik, hanya dengan empat jari dan pedal yang ditendang oleh kedua kakinya yang hanya sebatas lutut.
Hee Ah Lee adalah contoh dari sedikit orang yang mampu menerima dan mensyukuri keterbatasan, lalu berjuang dan sanggup mengatasinya. Lihat pula para atlet yang mengikuti olimpiade bagi orang-orang cacat fisik. Ada atlet loncat tinggi dengan satu kaki, bahkan perenang tanpa tangan, dan sebagainya. Hal-hal yang menurut kita sulit dilakukan atau bahkan tidak mungkin, menjadi mungkin dilakukan oleh mereka dengan balutan semangat yang luar biasa. Entah bagaimana membuncahnya rasa bangga yang menyelimuti, ketika medali dikalungkan dan buket bunga di tangan.
Ingatkah Anda akan ucapan Sugeng, seorang pembuat kaki palsu, pada salah satu adegan iklan minuman berenergi, “Buntung ya buntung, nek nyerah yo (maaf) goblok!”. Ucapan tersebut seolah menegaskan bahwa orang yang terpuruk, lemah, apalagi tidak berusaha melawan keterbatasan adalah orang yang tidak akan mencecap manisnya “kemenangan”.
Buku terbitan Hikmah Jakarta ini terdiri dari lima sketsa. Secara beruntun, pada tiga sketsa awal dikisahkan bahwa perjuangan Hee Ah Lee tidak terlepas dari perjuangan sang ibu. Perjuangan yang tanpa pamrih diberikan dalam bentuk perhatian, nasehat, dan kasih sayang yang seolah tanpa batas. Kekuatan rasa sayang pada putrinya mampu mendobrak kesedihan yang sebenarnya sudah mengendap di dasar hati, begitu mengetahui kondisi fisiknya. Hee Ah Lee lahir dengan kelainan bentuk yang langka dari tangan atau kaki, saat bagian tengahnya tidak ada dan terdapat celah di tempat metakarpal jari seharusnya berada. Belahan ini menyebabkan tangan atau kaki memiliki penampilan seperti capit (ectrodactyly) yang kemudian dinamai Sindrom Capit Lobster (Lobster Claw Syndrome).
Kurnia Effendi, penulis buku ini, dengan lugas menceritakan pula “perang” batin Woo Kap Sun (sang ibu) dalam mengasuh, membimbing, dan memompa semangat Hee Ah Lee untuk bangkit menjadi si normal (dalam kemampuan bermain piano) walau dalam keadaan tidak normal (secara fisik). Hal tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah, apalagi saat Hee Ah Lee mulai menginjak masa remaja. Masa dimana dia ingin diperhatikan dan mulai memperhatikan lawan jenis. Namun, kata-kata sang ibu, “Kamu tidak boleh dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Oleh Dunia. Karena itu, seberat apapun, kamu harus menjalani ini semua.”, menjadi cambuk bagi Hee Ah Lee untuk terus maju (Sketsa IV).
Pada sketsa terakhir, penulis memaparkan “kemenangan” yang diperoleh Hee Ah Lee, hasil kerja kerasnya melawan keterbatasan dengan tekad kuat dan dukungan penuh sang ibu. Kesuksesan telah membawanya konser ke beberapa negara, termasuk Indonesia, dan berkesempatan tampil satu panggung dengan Richard Clayderman, pianis handal asal Prancis, di Gedung Putih, Washinton D.C.
Membaca kisah nyata dalam buku ini, membuat kita patut merasa malu dan mulai bersyukur setelah sekian lama hanya pandai menghujat, menganggap seluruh perjuangan hidup semata sebagai aral. Kisah Hee Ah Lee mengajarkan bahwa tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini. Jika kita percaya diri, jika kita berusaha sekuat tenaga, segala cita-cita akan tercapai. Seperti halnya pepatah yang mengatakan bahwa perjuangan terbesar adalah mengalahkan diri sendiri. Selamat berjuang!

Penulis: Santi Utami

dimuat majalah GENTA edisi 5-19 Maret 2009