Sabtu, 22 Agustus 2009

PETAK-PETAK PENDIDIKAN

Ia tertatih di jalan,
nan luas tanpa ambang
Jalan yang dibandrol mahal
Karena diklaim sebagai jalur masa depan

Jalur itu berpetak-petak
Karena pupuk yang akan ditaburkan beda rasa
Itu kata mereka!
Mereka yang sok menyuarakan pendidikan harus merata

Ayahnya tak kan mampu membeli
Membeli mimpi-mimpi pahlawan kecilnya
Mimpi yang bukan sekadar kembang
Mimpi yang tak bisa diraup dengan ribuan

Ibunya tak kan pernah sanggup menyuap
Menyuap si perut gendut berseragam pimpinan
Yang bersahabat karib dengan pecundang kebijakan
Kebijakan itu lentur,
Kanan dianggap benar,
Kiri pun tanpa sortiran!


OBRAL IJAZAH

Ada sekumpulan pedagang
Tengah termangu
Menunggu datangnya hujan
Karena basahnya akan jadi ladang nan subur
Bagi dapurnya yang harus terus mengepul

Lembaran kertas sakti itu diobral!
Pada kerumunan tikus pencari kursi
Kursi yang empuk
Dan kebal akan virus demokrasi

Kejujuran terkoyak,
Oleh stempel dan ayunan tanda tangan
Harga diri hangus,
Oleh api bangga akan pujian

Makna deretan gelar,
Yang mengelilingi nama
Hanya untuk penghias kolong sempit
Yang jadi singgasana

Penulis: Santi Utami

dimuat di Harian SOLOPOS - 2009

Senin, 17 Agustus 2009

WARUNG KEJUJURAN

Panggung itu bak warung pinggiran
Walau kumuh namun lezat bukan kepalang
Tak sedikit yang tergoda
Mencicipi nikmatnya rasa

Pengunjung datang bergantian
Tak jarang cuma gratisan
Atau malah karena tawaran
Dari bos yang berkantong tebal

Korupsi hidangan wajib tiap hari
Manipulasi santapan khas warung ini
Sayang justru tak sedia makanan inti
Menu kejujuran yang sedang laris dicari


MENIKMATI KEJAHATAN

Ada nyonya kaya raya
Sibuk memulas wajahnya
Agar manis di depan jaksa
Mungkin coba mencari celah
Bagi kasusnya yang bikin muntah

Menurutnya di bui biasa saja
Asal jangan mati gaya
Anggap saja sedang di vila
Kalau perlu bikin salon pribadi
Lengkap dengan creambath dan spa

Penulis: Santi Utami

di muat di Harian SOLOPOS, 19 Juli 2009