Senin, 30 Agustus 2010

RESENSI NOVEL SERIBU TAHUN CAHAYA


Judul Buku : Seribu Tahun Cahaya
Penulis : Mad Soleh
Penerbit : Pustaka Bimasakti
Cetakan : I, April 2009
Tebal : vi + 246 halaman

Hmm…jujur aku menarik nafas panjaaaaaaaaang setelah menuntaskan “tugas mulia” membaca kitab ini (kitab yang lebih manjur daripada kitab primbon,kweeek). Mungkin rasa lega para antariksawanti yang selamat dari zarah belum sebanding dengan rasa lega yang kualami saat ini. Gilaaa bayangin aja, selama 245 lembar, aku harus bertualang ke alam bebas yang tidak jelas juntrungane. Begitu banyak pengorbanan untuk bisa memahami apa maksud Si’mad Soleh (jenis nama yang tidak jauh dari bau soto) dalam membuat fiksi yang uaneeh ini. Aku harus rela darahku naik turun (prosotan kaleee, emang ada ya merosot naik?he..) membayangkan para antariksawanti yang ‘sok penting’ itu melaju menembus cakrawala untuk sowan ke planet yang gak ada dalam pelajaran fisika itu,-
Sepanjang membaca novel ini, beberapa kali aku mengucapkan Amiiiiiiiiin, Karena banyak juga khayalan yang tositip bagi negeriku tercinta, mbak INA ini…jadi serasa ikut merasakan bagaimana jungkir baliknya para guru n stake holder-nye saking senangnya kalau benaran 30% anggaran negara dialokasikan buat pendidikan, wuiiiih, beneran terima rupiah deeeh, bukan uang yen … lagi. Jadi serasa ikut menikmati senyum mbah Maridjan dan mbah Surip kalau beneran anggota DPR tidak akan menuntut gaji lagi, swear pasti mbah Surip rela nggendong Yusuf Emir Faizal, Bulyan Royan, Al Amin Nur Nasution, de el el untuk tobat dengan bersemedi di pekarangan rumah mbah Maridjan yang rosaa rossa itu, I loph yu puuull dehh, ha ha ha ha ha ha.
Novel ini merupakan perpaduan khayalan dan realitas. Pikiran-pikiran Si’mad yang penuh khayalan diramu dengan diksi yang sok lucu (dah menthok ya bos?he..) misalnya nama-nama tokohnya dan beberapa plesetan kata yang bener-bener mleset, namun cukup bikin geli kok, yang paling bikin ngekek tuh ulah Kang Zaka Permana si arsitek Unpar dengan temuannya yang spektakuler yaitu P.A.G.U.P.O.N, kwekekekeek (swear, aku ga nyangka!), emang magic com! sekali pencet langung muncul tonggolannya,he...Si’mad bukan hanya membalut khayalan dengan guyonan tengilnya, namun sekaligus juga memberikan sorotan kritis atas permasalahan negara tumpah darah Indonesia ini, hal itu cukup jelas tersirat di cover novel ini (beneran deh, tuh cover yang ga menarik sama skalee). Oh ya, lha masalah pete n sambel aja dibahas sampe njlimet gitu, uhhh, bener-bener novel yang unique. Jadi menyangsikan gelar kesarjanaannya sebagai sarjana farmasi neh, jangan-jangan anak diploma tata boga!hehehe…
Si’mad juga cukup apik mengajarkan bagaimana seharusnya kita merenungi dan mengambil hikmah dari sesuatu yang kita lakukan. Apa yang diungkapkannya di halaman 70 memaksakan untuk berseru, wuuuiiiiiiiiiiiiiiihh, misalnya kutipan berikut:
Berada jauh dari bumi membuatku semakin banyak terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan tentang rahasia hidup manusia dan misteri alam semesta. Tapi ini juga membuatku semakin yakin bahwa semua urusan kepada-Nya adalah juga sebuah keniscayaan. Aku percaya dengan penyelenggaraan Tuhan. Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini mengikuti sebuah kuasa yang mahadigdaya. Manusia bukan penentu atas nasib mereka sendiri. Mereka hanya punya hak untuk berikhtiar menentukan nasib karena Tuhan bermurah hati membocorkan sedikit rahasia-Nya. Sedikit saja. Sangat sedikit. Aku yakin kehancuran paripurna manusia dan dunia hanya masalah waktu. Manusia akan punah, kiamat. Kami tak tahu kapan. Sama persis seperti ketidaktahuan kami tentang kapan masing-masing dari kami akan mati. Dan sambil menunggu datangnya kiamat kecil dan kiamat besar itu, manusia boleh berusaha mempertahankan kehidupan dan eksistensi mereka. Entah di mana batasnya.
Tapi paling ciamik ya halaman terakhir tuh, nendang bangeeeeet! Seberapapun hebatnya manusia (entah dengan apa mengukurnya!) semua kembali pada sifat-sifat dasarnya, yang kadang bisa mabuk kepayang karena cinta, jejingkrakan saking senengnya, termehek-mehek, bisa pula ceklek atine, telmi, lan sak panunggalipun. Hmmm so sweet…
Secara keseluruhan Seribu Tahun cahaya merupakan salah satu novel yang aneh dalam konteks negatif, unique dalam konteks positif, bikin kagum karena background penulisnya yang memprihatinkan, bikin ngiri karena daya khayalnya yang mengalahkan Hans Christian Andersen (sok kenal banget seh gue!), dan bikin SEMANGAT untuk membuat novel juga karena novel yang biasaaaa aja dan ditulis orang yang ga jelas kayak gini aja bisa terbit kok apalagi novelku nanti, hueeeeee, TENANG-bukankah separuh hidup kita adalah ironi...so, jangan terlalu serius membaca, tapi jangan kaget kalau Anda beberapa kali harus mengerutkan dahi dan ngakak-ngakak sendiri, yaaaaahhhh mau bagaimana lagi-bukankah separuh hidup kita adalah humor…katanye seeeeeh….

* Pemenang Harapan II Lomba Menulis Resensi Guyonan Pustaka Bimasakti - 2009

Jumat, 20 Agustus 2010

:) n :( - 28 Maret '10

Kawan,, ada kisah bahagia,, dan aku lah yang sedang merasakannya,, saat ini,, di sini,, sendiri… sepertinya aku memang harus menyediakan berjuta-juta rasa syukur [bahkan lebih… lebih…],, atau memang aku yang terlalu bandel untuk merasakan kesedihan? Bukan karena aku tak pernah merasakan kesedihan, tapi… Ahhh, tenang saja… sangat kuyakini bahwa semua berjalan dengan rotasi dan formasi yang luar biasa dahsyaaaat, hmmm… karena sang pengatur hidup adalah arsitek yang SUPER mahir, yang bahkan tahu “kekuatan dan porsi” masing2 umatnya…

Kemampuan mengolah kebahagiaan dan kesedihan itu seperti mengolah mie instant [hahaha, efek terlalu banyak mengkonsumsi mie instant kie,, pikiran jadi ikut mbuleett, :D]— sebelum bergulat dengan bumbu utama, minyak sayur, dan bubuk cabenya,, perlu ditambahkan bumbu penyedap berupa kewajaran,, apabila pengolahan tidak dilakukan dengan sewajarnya, terlalu ingin cepat matang dan terburu-buru, lalu mengolahnya dengan api yang relatif besar, maka hasil olahan pun akan menjadi terlalu lembek hingga hampir menjadi bubur mie [kawann, ini sebenarnya pengalaman mengolah mie instant di kost tadi pagi,, hahaha],, hmmm… ketika mendapatkan kebahagiaan dan kesedihan sikapi dengan sewajarnya saja, tidak perlu lebayy [terkontaminasi bahasa mahasiswa, peace, :D], ataupun berharap kebahagiaan itu lebih lama menaungi atau kesedihan itu segera enyah dari diri, sudahlaaah,, serahkan pada AHLInya saja untuk mengaturnya… sepertinya tidak perlu didramatisir… menikmati… ya dinikmati saja… kalau berasa ingin berjingkrak2 (*tanda baca Mishbakh akhirnya muncul juga, :DD), tertawa ngakakkkk, senyumm puass, dan sujud syukur saking bahagianya atau ingin berguling2, menjerit2, mengakrabi tisu dengan air matamu saking sesaknya menahan sedih maka LAKUKANLAH… tapi setelah itu, segeralah masuk lagi ke lingkaran k.e.w.a.j.a.r.a.n... tak berstandar… subjektif kawaaan… TeNtUkAn dan JaLaNkAn…

Dan aku bahagia ketika ‘melihat’ mereka dan sedih karena harus ‘melihat’ mereka… hak melampiaskan kebahagiaan dan kesedihan sudah kudapatkan… aku dengan sangat bebas tersenyum-senyum, tertawa se-ngakakk2nya, bernyanyi2 sambil jejingkrakan [mantan vokalis band GaGaL,tapi tenang kawann… kali ini bukan band dangdutan, hohoho], bercerita dengan teman2 sambil cengigisan, berbicara sendirian di kamar, atau menonton infotaiment kelas kacangan sambil berkhayal jika menjadi artis karbitan,, Alhamdulillah… karena aku bahagia… bahagia…

Pun aku sangat bebas memukul2 guling dan bantal, termehek-mehek seakan aku ini orang termiskin di dunia (awass, mulai mengarah ke lagu dangdut, :D), judes pada orang2 yang kutemui, sensitif terhadap masalah2 yang tidak penting, mencak2 tidak karuan, dan berteriak2 garang layaknya binaan RSJ yang paling teladan [hahh? hehe],, karena aku sedih… sedih…,, tapi jangan khawatir,, masih dalam batas kewajaran… dan aku menikmati keduanya… sangat menikmati keduanya…

Dan kini aku ingin ‘mereka’ merasakan kebahagiaan dan kesedihan sesuai “jatahnya”… aku tak mengingat pun tak melupakan… aku tak menyukai pun tak membenci… aku tidak sedang diam… aku sedang bersiap menyambut kebahagiaan2 dan kesedihan2 berikutnya… aku sedang menata bagian paling rawan dari serangan-serangan dadakan dan efek-efek yang menjemukan, sehingga berakibat fatal… tapi aku masih sadar, bahwa hidup tak sebatas kebahagiaan dan kesedihan… ini hanya sebuah potret dari berbagai potret kehidupan… selama sang arsitek masih memberi kesempatan… bukankah sudah selayaknya kita maksimalkan… toh, kita tidak tahu sampai halaman berapa sang arsitek membuat sketsa-sketsa tajam… besok adalah halaman terakhir? Hmmm… MUNGKIN… sangat mungkin… -- waspadalah… waspadalah... [weitsss,,,bang napiiiii, love u… hahaha],,

Kamar – 004^
Wisma Bhakti ** Trangkil sejahtera, selamat, sentosa, :DD

MENGHABISI "SANG PRESIDEN" ITU - 18 Januari '10

Masih ada yang tersisa… belum terhapus karena kujaga dengan kunci sebesar palu seharga satu enam satu… masih rapi… tetap urut… dan begitu “membaca” serasa melemparkan diri ke dalam ruang penuh tulisan: “AKU BENAR TAPI AKU BODOH”…

Ya… dan dengan alasan apapun akhirnya aku memang memilih yang “benar”… benar menurutku belum tentu menurutmu… tapi tak kulihat air matamu,, tak kudengar rengekanmu,, dan tak kurasa perih itu… ahhh kau memang pandai menyembunyikan… bahkan sangat ku yakini,, kau akan lebih memilih berjemur menatap sang raja siang atau menantang delik liar serigala lapar daripada harus bicara satu kata tentang rasa yang tengah kau tutupi dalam-dalam… dan aku “benar” karena logika harus tetap jalan walau hati berontak karena tak ingin dinomorduakan… tenangg,, sudah kuperhitungkan benar-benar langkah kakimu yang kutahu berat meninggalkan ‘medan perang’…

--- ;;;; ---

Ya… dan aku “bodoh” telah mencoba membunuh ‘sang presiden’ masa depan… aktor intelektual yang tak mengedepankan roman picisan untuk sebuah ikatan tanpa syarat dan ketentuan… dan aku “bodoh” harus menerbitkan undang-undang ‘tandingan’ untuk sekedar mengharap kau mengikuti aturan dan menganggapku sebagai ‘yang berwenang’… aku “bodoh” telah salah menerapkan strategi dan kau pun “bodoh” telah SANGAT SALAH memaknai sebuah strategi… aku berjuang mempersempit ‘wilayah’mu yang kalah oleh waktu… kau hanya kalah lebih dulu… HANYA KALAH LEBIH DULU… tapi kau ‘sang presiden’ ituuu… mengertilah…!!! Kau ‘sang presiden’ ituuu…

---;;;;---

Terus pertahankan ego itu hingga lumpuh kedua kakimu,, jangan menyerah hingga kau rasakan keperihan yang teramat sangat sebagai imbalan atas kekerasan hati yang menyembunyikan hati dengan tak hati-hati… lanjutkan aksi tutup mulutmu,, jangan bicara hingga sudah tak ada yang tersisa… kecuali jika kau menunjukkan nyali untuk ‘beradu strategi’ dan berhasil ‘meracuni’ diri sendiri…

Karena “KAU BODOH TAPI KAU BENAR”—


Kamar 004,,
Trangkil S.E.J.A.H.T.E.R.A--

AWAL 2009 DI PELATARAN JEMURAN - 30 Desember '09

Tahun baruku lalu kuawali dengan doa di bawah kerdip kembang api di sebuah pelataran jemuran,, hmmm… sungguh ada ketidaksengajaan yang mengintipku lewat menara masjid yang menjulang seakan menantang terbangnya si kembang… ahhh,, tak kupedulikan karena mukaku tebal untuk tetap berteriak menyambut harapan yang belakangan kuketahui memelukku sedemikian erat… Alhamdulillah…

Masih ingat, kuawali bulanku dengan duduk manis di sebuah ruangan penuh tatapan keingintahuan… weww,, kuberi senyuman termanis yang bisa kulakukan, dengan sedikit anggukan sebagai tanda kesopanan, karena mereka akan menjadi bagian dari hari-hari panjangku di sebuah rumah baru yang tidak “kubeli”… hmmm rumah ini ternyata perlu “dibersihkan”, sebab setelah kutempati beberapa minggu, barulah kutahu ada lalat yang pandai memberi senyuman masam, kecoa yang berbincang dengan candaan berbau bawang, kadal yang berpandangan dengan binar lalu berpaling dengan ceracauan, dan banyak tikus-tikus pintar yang saling adu kemunafikan… namun, setelah setahun tinggal, aku sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman saat bertegur sapa dengan lalat, ngobrol dengan kecoa, bersenda gurau dengan kadal, dan beradu dengan para tikus… aku adalah nyamuk yang masih menunggu siapa diantara anggota 'keluargaku' yang kelebihan darah saat otaknya sudah melepuh penuh nanah…

Pertengahan tahun, mulai kukenali wajah-wajah yang belakangan menjadi saudara baru dan musuh baru… adalah hatiku, yang berbungkus kemanusiawian, yang menentukan mana yang layak kujadikan saudara dan mana yang kuberi kehormatan sebagai musuhku,, ;D… saudaraku, bersiaplah menerima jamuan istimewaku tiap detik yang kau perlu, tapi jangan menganggu waktu mesraku dengan penciptaku… musuhku, berbahagialah karena kau selalu ada dalam pikiran jahatku,, takkan ku lampiaskan asal kau tak memulai duluan… tapi sekali kau ketuk pintu itu,, tak akan ada tawar menawar—kau jual aku beli,, kau yang mulai kau pula yang harus mengakhiri (hahaha, aku pengen marah dengan nada mengancam tapi kenapa yang muncul malah lirik lagu dangdut ini yaa,,, ;D)….

Soal rasa, tak usah ditanya, aku muntah karena ada manis, asam, asin, rame rasanya… hahaha… ini bagian hati yang menyenangkan namun pelik karena wadah yang kurang besar… kucoba tampung semua namun otomatis harus luber dengan sendirinya… baru sadar ternyata ada bagian yang langsung memilah mana tamu yang membawa harapan dan mana yang hanya akan membuat keributan… debat kusir dengan diri sendiri sesekali terjadi, wajarlahh, sebagai upaya menentramkan batin sendiri, karena aku terlalu egois untuk disetir oleh pihak-pihak yang mengaku peduli… sampai detik ini, belum kumantapkan hati, masih kujaga peluang untuk membuka atau menutup pintu dengan komitmen menurut caraku dan dengan aturanku… maaf, aku memang seperti itu, namun tidak selalu begitu… peace… hahaha,,

Bulan akhir, banyak senyuman diantara keringat dan tulang yang meredam… ada banyak dosa namun semoga terselip beberapa pahala, amin, (hahaha, akhirnya narsisnya keluar juga,,)… kupacu langkah yang memang harus kupercepat… kutinggalkan selimut lebih sering dari sebelumnya… kurelakan waktu walau belum tertata dan masih amburadul dalam membuat skala prioritasnya… belum kutuai hasil yang maksimal, namun semoga proses mengantarkannya kesana… belum menyiapkan tanda titik karena aku masih ingin melanjutkan dengan lebih baik, amin…

Ada banyak WARNA, HURUF, ANGKA, dan RASA untuk SANTI PRATIWI TRI UTAMI (baru sadar juga kalau namaku terlalu panjang… hahaha) di tahun 2009 ini, overall aku menikmati semua kesedihan dan mensyukuri semua kebahagiaan…

Mohon maaf atas segala kesalahan, semoga cukup sekali dan takkan terulang (tuh kan larinya ke lagu dangdut lagee, hahaha…) dan terimakasih atas hal baik yang telah kalian berikan, TERUSKANLAH…!! (by Agnes Monica) dan LANJUTKANN…!! (by SBY)… hahaha… love u full temaaaannnnn,,, bye 2009….

Bismillah… SELAMAT TAHUN BARU --- sambut 2010 dengan ‘kamu’ sebagai ‘kamu’….

RUPA-RUPA PURA-PURA - 3 Desember '09

Kugelengkan kepala serasa tak percaya… atau jangan-jangan aku sedang menghindari fakta di depan mata? atau bisa jadi sedang sembunyi dari hati yang mengirimi rasa ini?

Ahhh… kubiarkan sajalahh… pura-pura tidak tahuu hal-hal begituu…

Bayangannya menjajah tanpa ampun,, bahkan kadang menusuk tepat di saat yang tidak tepat… ini mengenaskan kawannn…!!! tapi bukankah aku sedang berpura-pura? Konsisten pada ketidakkonsistenan itu perlu ketika ‘urusan muka’ lebih utama…

Ahhh… lewati sajalaahhh… tohh seleksi ‘alam’ lebih handal dari sekedar perhitungan rinci yang sok diklaim sebagai nurani…

Hatiku kalah tapi mukaku menang… uppsss jangan dulu ‘berteriak’ kawannn…!!! Bukankah aku sedang berpura-pura? Sungguh aku tak bersungguh-sungguh –ini gila, tapi aku gila (ber)gila-gilaan--!!!

Agar lepaaaass - please sediakan aku ‘RUANG’, jangan beri aku tubuhmu karena aku tak mau memaksanya mengeluarkan darah atau memberi lebam pada aksesoris kulit nan eksotis itu… tapiiiiiii kalau kau ikhlas,, hehehe,, telah kusiapkan tendangan maut tepat di ulu hatimu yang sengaja tak kau tutup rapat untukku…
Ahhh… jangan senang dululahhh… hatiku berkata begitu tapi pikiranku memilih begini… Bukankah aku sedang berpura-pura? Hmmm rasanya lebih puas menendang angin yang tak terkira jumlahnya… hmmm rasanya lebih nyaman berbicara pada dinding kamar… hmmm rasanya lebih asyik berbisik-bisik dengan kumbang-kumbang di taman (swear - ini dangdut bangeeet, kwakakakakk)… hmmm rasanya lebih narsis menempel gambar diri di sebelah kanan lambang garuda (untuk yang ini PEACE ya Pak…hihihi)… hmmm lebih terasa bengis dengan menghancurkan tempat tidur setelah berjibaku dengan mimpi-mimpi najis…

Kawaaan…,, rupa-rupa pura-pura itu manusia jugaa,, hanya saja dia buta bahwa hati tidak buta,, hanya saja dia tuli bahwa perasaan tidak tuli… suatu saat nanti dia akan ada di ‘singgasana’ bersama hatinya yang tidak buta dan perasaannya yang tidak tuli… Amin.

Trangkil--

Kamar 004,,

BUDAYA MENGECOH - 19 November '09

Buaya dan tikus sedang komunikasi
Dimana akan bersua untuk transaksi
Buaya bilang jangan lupa akan imbalan
Karena moral sudah tak jalan

Saat sua mereka kaget
Buaya berjubah raja
Dan tikus memakai mahkota
Wah…sungguh mengecoh mata

Orang pikir buaya adalah panutan
Orang kira tikus adalah teladan
Padahal kalau topeng ditanggalkan
Sungguh, kebusukan yang akan dikenang


Nb:
* ............ sebagai buaya
** ............ sebagai tikus
*** jangan Kau tanya cicak dimana... karena Kau pasti sudah tahu jawabnya,, ;D

(hehehe... PEACE ya bapak-bapak yang terhormat [eh, ada wanita-nya juga denkk-tapi masih 'sembunyi'...;D)

TA DA JUDUL - 12 November '09

Heii… ketika hati mulai ‘berwarna’—akan sangat sulit membendungnya…
Atau aku yang belum berusaha keras untuk mengekangnya…?
Tapi bukankah mengekang rasa ituuu tak semudah mengikat tali sepatuuu…?

Sungguh tak ingin Camry seperti milik ‘tuan-tuan bersafari’…
Tak berkhayal punya wajah secantik Miyabi,, ;)))
Pun tak mimpi berlimpah harta layaknya Aburizal Bakrie…
Apalagi punya kekuatan mirip Ponari, (hwahahahaha…)

Sudaahhh… seadanya sajaaa…
Tohh kita dianugerahi kaki…
Tohh wajah kita tak terlalu ‘ngeriii’…
Tohh masih bisa makan minimal sekali sehariii… :-) + kalo ada traktiran,, hehehe…
Tohh masih kuat bangun pagi…
(Alhamdulillah…)

Ber’gulat’ dan maknailah dengan kata C.U.K.U.P
Terasa berat?? Ya… iyalahh…
Namun bukankah bisa diatasi dengan niat diri,,?
Kalau belum ‘sekarang’ – minimal cobalah duluu
Kalau pesimis menang – minimal peranglah duluu (yang ini kutipan saran dari ‘seseorang’, hehe)

DI BALIK PUNGGUNG KATA-KATA...!!! - 27 Oktober '09

Aku tak ingin bangun, namun apa daya bila Tuhan menghendaki aku terjaga. Aku tak ingin baca, namun rupanya Tuhan ingin menunjukkan satu fakta untuk perjalanan selanjutnya. Temaaaan, sungguh ini bukan pujian melainkan makian… sungguh bukan kesengajaan melainkan kesalahpahaman… oke,, ku kuatkan hati untuk menghadapi walau tanpa senjata api…

Siapa bilang makian hanya sumpah serapah yang memerahkan kuping gajah? Siapa sangka semut pun harus menerima muntahan kata yang busuk baunya. Hmmm… atau biarkan saja asal mereka tak tergoda? Atau perlu bertindak karena sudah tahu harus bagaimana? Namun bukankah keserakahan muncul karena godaan jiwa untuk membungkus dua atau beberapa rasa dalam satu kantong yang belum tentu berukuran raksasa?

Aku tak ingin bersumpah karena bukan itu esensi sebuah klarifikasi. Aku juga sedang menghindari keserakahan karena itulah awal mula cerita ini. Mohon tahan diri untuk tidak memperpanjang persoalan apalagi menghakimi. Percayalah, Tuhan mengatur kita dengan cara yang suci. Jadi, segera akhiri permulaan yang buruk ini dengan kisah baru yang memberi senyuman abadi.

PESAN DALAM SAKU - 17 Oktober '09

Satu malam ada yang mengetuk pintu usang. Wah, sepertinya melewati beranda depan penuh semangat tak terbantahkan. Ketukan sopan membuatku beranjak walaupun awalnya agak menolak. Tenang… telah kusiapkan jawaban dari salam yang kuyakini akan diucapkan.

Sama sekali tak kurasakan kekagetan. Justru ketakjuban yang sempat hinggap walau harus segera kutepis demi kenormalan. Titipan pesan yang disampaikan sangat sederhana, namun bila disuarakan kucing pun akan menoleh karena mencium ketidakberesan.

Apakah sesuatu yang tersurat harus diawali dari hal-hal yang tersirat? Ahh… kurasa buang waktu bila harus menjawab, karena semua misteri lebih hangat bila diresapi dalam hati. Cukup dalam hati. Cukup dalam hati. Minimal untuk saat ini. Minimal sampai detik ini.

Penyampai pesan ini riuh sekali. Sungguh, aku tak sempat berlari, hanya sekedar untuk melindungi luka yang masih basah, agar tak terinfeksi. Namun, abu-abu ini mulai memutih dan abu-abu itu mulai menghitam, ketika pesan telah tersampaikan tanpa syarat dan ketentuan yang terlalu merepotkan.