Minggu, 25 Januari 2015

Bahwa ...

Belajar (lagi) tentang 1 hal... bahwa rupa bisa saja bukan wujud asli rasa... senyum bisa saja tameng dari luapan jiwa lara... maka, hati-hati dengan rupa-rupa... dia bisa bicara!

Mengakui kekurangan, tentu bukan hal mudah... bagaimana tidak, bukankah ada prinsip bahwa setiap kekurangan wajib ditutupi? entah dengan koar atau diam.

Bodoh bila koar, menurut saya. Bukan menutup malah membuka. Bahkan hal yang awalnya luput dari amatan, dari penilaian orang. Mudah orang akan membuat simpulan.

Kecerdasan akademik bukan jaminan. Ternyata! Kecerdasan emosinya masih rentan hanya dengan satu kali gesekan. Sumbu pas-pasan, api sedang, tapi sudah kelimpungan. Meledak! lalu koar untuk mendapat pengakuan.

Maka, saya berkaca. Tidak besar namun sangat cukup melihat diri. Seutuhnya! Bahwa tidak ada yang sempurna. Tidak akan pernah ada, kecuali DIA. Dan komentar akan selalu ada dalam setiap kebaikan dan (apalagi) setiap keburukan.

Mawas diri. Lebih tegak dalam tabah!

Salam,
@B1 206