Senin, 17 Agustus 2015

Nyandhang Eling Papan!


Manusia adalah tempat salah dan lupa. Pepatah tersebut menegaskan bahwa setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak. Idealnya, harus ada tindakan pada setiap kesalahan, baik pemberian hukuman maupun sekadar pemberian teguran. Dalam interaksi antara orangtua dan anak, guru dan murid, atau antarrekan kerja, kerap diselingi teguran ringan. Beragam reaksi yang kemudian menyertai adalah hal yang manusiawi dan pasti. Ini memang urusan yang gampang-gampang susah!

Kalau dipikir ulang, sebenarnya alangkah beruntungnya kita jika ada orang di sekitar kita yang mau atau (masih) berkenan mengingatkan ketika kita berbuat salah. Selain wujud rasa peduli, bisa jadi bukti rasa sayang pula. Bukankah menunjukkan rasa sayang bisa dengan beribu cara? Ah, ya! bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.
Teringat kejadian beberapa tahun lalu, di depan loket pelayanan administrasi jurusan, bu Prapti ngendhiko “Mb Santi, mbok bajunya ganti tho?” setengah bingung saya coba meneliti apa yang salah dengan baju saya. Mb Puji yang sedang berdiri di depan saya pun ikut bingung, (sepertinya) ikutan ngoreksi penampilan saya. Perasaan ini tampilan baik-baik saja, sopan, bersih (tapi agak bau sih), dan jilbab pun kalem bin rapi. “Sudah siang begini kok masih pakai baju olahraga, opo yo ora risih?” lanjut beliau seolah tahu kebingungan kami. “Oooooo, nggih bu!” jawab saya sambil nyengir. Baru ngeh kalau baju senam masih nempel “harummm” di badan saya. “Lha ya, saiki ki dho piye tho, sudah lepas istirahat Jumatan kalau saya ke dekanat pasti pegawaine masih banyak yang pakai baju olahraga, lek ngono ki yo mung sandalan thok sisan. Kok yo ra mulih sisan wae!” lanjut beliau.
Tidak hanya itu, saya ingat betul bagaimana seorang dosen muda beliau panggil dengan takzim, sangat sopan. “Mbak, sini-sini duduk sini!” ujar beliau sembari menggeser posisi duduk ke seberang sofa tua di ruang tamu jurusan. “Kalau mengajar pakai rok limang senti begitu, lak yao sik seneng mahasiswane tho? Lha tapi lak mahasiswine dadi risih tho? tanya beliau. Obrolan kemudian berlanjut dengan petuah-petuah panjang sarat makna. Walau hanya “menguping” sebentar, saya yakini mengandung unsur kebaikan dan mengarah pada upaya perbaikan.
Mata saya terpejam, merenungkan. Sing atase bu Prapti yang sudah sepuh saja (masih) terus berusaha memberi contoh yang baik bagi mahasiswa, kok kita yang muda mau neko-neko. Ojo ah, mundhak keloro-loro! Beliau juga kerap menegaskan bahwa bergaya dalam berbusana itu boleh, sangat boleh, wajib malah. Namun hendaknya mengingat sedang dimana kita berada, acara apa yang sedang kita ikuti, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Nyandhang eling papan!

Jawilan-jawilan seperti yang beliau lakukan itulah yang akan kita rindukan. Seperti bunyi alarm keikhlasan, layaknya nasihat ibu kepada anaknya. Di situlah kepedulian terhadap rekan kerja dan tentunya mahasiswa (secara tidak langsung) akan terlihat. Ketika kita diam berarti membiarkan sesuatu yang kurang baik terus berlanjut. Walaupun menegur terkadang memunculkan kekakuan dan kasak-kusuk di belakang. Ah, sudah lah! Sing uwes yo uwes.

*Santi Oetami
Dibukukan dalam kumpulan esai "Belajar Menjadi Guru"
-dalam rangka mangayu bagya purnatugas Dra. Suprapti, M.Pd.-