Minggu, 04 Desember 2016

Gempa Literasi! (Salam Pembuka)

2012. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Selamat datang dini hari... :)

Mengeja salam pembuka dari duo penulis buku Gempa Literasi, Gol A Gong dan Agus M. Irkham, ini seakan mendapati sweemangat yang meluap dan siap untuk "digelontorkan" kepada pembaca! Iya, apalagi kalau bukan soal dunia literasi dan perkembangannya di Indonesia. Tak tanggung, buku yang diklaim sebagai -buku sakti pegiat literasi- ini berisi 99 esai mengenai dunia buku, perpustakaan, komunitas literasi, budaya membaca dan menulis, dan Taman Bacaan Masyarakat. Asupannya kuyakini bukan hasil jerangan semalam, apalagi bentuk laku imajiner yang duduk persoalannya masih perlu diraba arah tujuannya. Duet ini ialah tokoh literasi di dunia nyata melalui Rumah Dunia di Serang Banten. Dari sanalah virus "gempa literasi" terus ditebarkan hingga hari ini! 

Literasi bukan semata-mata soal buku. Pemaknaan terhadap literasi terus berkembang dinamis. Boleh dibilang, sedinamis kehidupan yang menyertai pembicaraan soal literasi itu sendiri. Sampai pada kalimat ini, aku teringat seorang mahasiswa yang menghubungi via pesan singkat beberapa hari yang lalu. Dalam posisi sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia bertanya: "bu Santi, kalau saya hanya punya waktu sekitar 4 minggu untuk menggiatkan budaya literasi masyarakat di wilayah pelosok ini, apa yang harus saya lakukan selain membuat taman bacaan?". Pembahasan kami tentang ini cukup lama kemudian. Tentu, ku awali dengan penjelasan bahwa literasi (juga) bukan melulu soal aktivitas membaca! 

Perkembangan literasi diteropong dari dua sisi: konsepsi dan praksis. Sisi konsepsi memberikan pemahaman tentang urgensi "melek literasi", selain terdesaknya kebutuhan akan terbentuknya masyarakat pembelajar (learner society) yang lahir dari rahim masyarakat pembaca (reader society). Adapun dari sisi praksis, literasi dimaknai sebagai pijakan peningkatan kapabilitas seseorang, misal adanya progres cara berpikir kritis dalam melakoni perjalanan hidupnya.

Deretan 99 esai dalam buku ini tentu akan genap sempurna secara substansial, bila pembacanya bersedia memanfaatkan informasi di dalamnya untuk hal baik. Menyitir ungkapan Rendra bahwa butuh 3 syarat utama dalam melakukannya: cinta kasih atau api peduli, keterlibatan, dan sesuai nilai-nilai universal. Kepedulian sangat penting, namun belumlah cukup. Peduli baru sekadar interpretasi dari simpati yang perlu diejawantahkan menjadi empati. Bila rasa itu sudah ada, maka keterlibatan akan menjadi sebuah kesadaran yang berujung pada komitmen. Peneguhan terhadap komitmen tersebut, perlu disesuaikan dengan nilai-nilai universal berupa kejujuran, kesabaran, pantang menyerah, dan bersungguh-sungguh. Mari!


*book-lovers problem: never realising how many books you have until you have to move them!
#Graha Sartika A/3 #04.12.2016 #01.49


  

Senin, 28 November 2016

KONJUNGSI "SEDANGKAN"



Konjungsi “sedangkan” berfungsi menghubungkan dua klausa setara yang bermakna “pertentangan”. So, konjungsi ini tidak tepat digunakan pada awal kalimat, apalagi awal paragraf. Secara logika pun fatal, coba cermati benar!

*kasus dominan kalau review kebahasaan skripsi atau karya tulis ilmiah!

Sabtu, 15 Oktober 2016

*A3 - (just) Ordinary Fam!

Guys, saya paham benar, setiap pribadi pasti ingin kaya.
Namun, saya (juga) mafhum bahwa standar 'kaya'-nya bisa jadi berbeda-beda.

Bila kata 'kaya' kemudian dimaknai sebatas harta, betapa dangkalnya.

Bagi saya, status 'kaya' telah tergengam karena punya mereka berdua (dalam foto-red).
Yaps, keluarga! Alhamdulillah.

Dalam konteks tertentu, saya tahu konsekuensi sebagai ibu bekerja. Itu pilihan saya!
So, saya (sebaiknya) tidak egois (lagi) mengusung idiom family is everything.
Walau saya sangat tahu, sejauh 'perjalanan' ini:
I sustain myself w/ the love of my fam!

            GS A/3 - 00.07 WIB   
 

Rabu, 12 Oktober 2016

-self reminder-


Ada 2 hal yang ku pelajari dari curhatan mahasiswi
mungil, 'pasien' skripsiku petang ini. 

*Betapa pekerjaan yang tampak remeh atau sepele
bisa jadi justru adalah sebuah ke-WAJIB-an!
*Pertimbangkan kembali segala sesuatu, jangan
sampai JUSTRU aktivitas wajib itu dipersepsikan
"menganggu" aktivitas pilihan lainnya.

Aku diam, be a good listener, mencoba memberi
senyum diantara suara sesenggukannya,
menepuk punggung tangannya pelan walau
sebenarnya juga menahan tangisan.

Kubilang: "Kalau kamu kecewa dengan seseorang,
tantang hatimu untuk tetap memberikan doa terbaik
untuknya". 

Karena mulut bisa saja basa-basi bicara, namun hatilah
penyimpan ikhlas yang sesungguhnya.

GS A/3. 22.25 WIB

Senin, 03 Oktober 2016

- MaJEmuK -





Did you know, guys?
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Sebelum mengenal konsep Klausa, "aliran" Linguistik Tradisional menyatakan bahwa kalimat majemuk berarti dua kalimat atau lebih yang digabung menjadi sebuah kalimat. Hmmm... agak janggal juga sih ya? secara logika, berarti 1+1 = 1 atau 1+2 (atau lebih) = 1. Berterima kah?

Yeps, yang bergabung sebenarnya satuan Klausa bukan Kalimat! Beberapa Klausa itulah yang membentuk kalimat majemuk, baik yang setara, bertingkat, maupun campuran.

Chaer, Abdul. 2015. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.  
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Senin, 05 September 2016

Siapa Editor Buku Favoritmu?

Well... Good night everyone! :)

Membaca (lebih tepatnya menemukan) buku ini adalah sebuah anugerah. Inget banget beberapa tahun lalu (hmm... sekitar 3 tahun) "klintong-klintong" ke Gramedia Matraman, sendirian, nyisipin waktu ketika mengikuti Editing Workshop-nya IKAPI untuk kali pertama. Niat awal nostalgia (cieee...), napak tilas hidup beberapa bulan di Salemba, dulu amaaat nongkrongnya di Gramed ini, sekadar baca-baca, killing time!

Ini buku "nyelip" di antara jejeran buku-buku lama, kategori Bahasa, di rak paling bawah pula. Begitu pegang langsung berbinar-binar, tidak perlu pertimbangan lama, beli! Secaraaa ya, nyari referensi untuk Editing Bahasa alias Penyuntingan di Indonesia tidak mudah. Paling banter ketemu Buku Pintar Penyuntingan Naskah-nya Mr. Pamusuk Eneste dan kalau beruntung ya kebagian Editor Bahasanya Sugihastuti dari UGM. Wes mentok itu selama setahunan, selain Bahan Ajar "lokal"-nya Mr. Bambang Hartono (partner in crime, ehhh partner senior di MK Penyuntingan maksudnya, hahaha).

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Guys, saya ingin bertanya: siapa penulis favoritmu?
Tere Liye, Dee, GM, Arswendo, Ayu, Djenar, Budi Dharma, Andrea, Sapardi, Seno Gumira, Triyanto, El Shirazy, Hilman, Asma, Helvy, Rowling, Meyer, Coelho, Grisham, King?

Ada satu atau bahkan lebih pilihan? atau masih dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya? atau malah suka Fredy S? (hahaha, stensilan berats ini!). Yaps, percaya deh, kalian bisa menyebut dengan mudah.

Guys, saya ingin tanya (lagi dong!): siapa editor favoritmu?
Hmmm... pak Bambang Hartono... hmmm... bu Santi... hmmmm... tetttt tottttt (habis waktuuu... kuis kaleee... :D)

Itu jawaban yang biasa saya terima di sesi awal mata kuliah Penyuntingan! Sebagian besar merasa kesulitan menjawab, atau berpikir sebaliknya: ini pertanyaan apa sih? mengapa harus ditanyakan? apa pentingnya? bla bla bla.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =  = = = 

Profesi editor di Indonesia (di sebagian besar negara lain pula) tidak terlalu "terpandang". Maklum saja, editor bukanlah front man dari sebuah tulisan (buku) cetak. Kalangan awam pasti akan sangat mudah menunjuk penulis sebagai inisiator utama (bahkan mungkin satu-satunya) dari sebuah produk buku. Padahal, proses hingga buku siap cetak/terbit tidak se-simple yang dibayangkan. Dalam hal ini, publishing science sebagai sebuah ilmu masih perlu diperkenalkan (Hal. 5).

Awam juga sering menyamakan hakikat penerbit dan percetakan, intinya sama-sama "pabrik" buku. Sebenarnya, gambaran keduanya layaknya designer dan penjahit. Beda! Penerbit yang "membidani" lahirnya sebuah buku, seperti halnya designer membuat rancangan dan percetakan yang action terhadap naskah mentah, seperti halnya penjahit mengeksekusi pola kain pasca-cutting.

Penerbit di Indonesia mulai menggunakan jasa editor sejak era 80-an, sebelumnya penulis ya penyunting sekaligus! Seadanya, semampunya, sekenanya! seiring perkembangan, profesi ini dibutuhkan. Nah, karena keterbatasan SDM di bidang ini, banyak editor "dadakan" yang nyemplung secara otodidak. Hasil riset yang dilakukan The Assosiation of American Publishing menyebutkan 80% orang yang saat ini bekerja sebagai editor tidak pernah memiliki cita-cita atau renjana awal dengan profesi ini. Kondisi tersebut tidak jauh dengan dunia penerbitan di Indonesia, coba saja cek lowongan pekerjaan untuk Editor, syarat pertama yang tertulis biasanya: S1 - SEMUA JURUSAN! Seolah menyatakan: ayolah, bidang apapun Anda boleh-boleh saja, hukum alam yang nanti menyeleksi seberapa lama Anda akan bertahan! :)

Secara akademis, ilmu penerbitan dan penyuntingan juga belum berkembang baik. Umumnya hanya disediakan beberapa sks pada beberapa jurusan yang relevan. Sebelumnya, secara khusus pada tahun 1988 pernah dibuka program studi D3 Editing di Unpad Bandung dan pada tahun 1990 di Politeknik Media Kreatif. Belakangan, karena sepinya peminat, hanya yang terakhir saja yang tersisa. Adapun di Malaysia, ilmu ini dikembangkan dengan baik oleh Universiti Malaya dan UTM, bahkan hingga Strata 3.

Maximalis (Cetakan 1/2009)
Nah, ini sekilas review bagian awal dari buku ini... to be continue ya... :)
*semoga bermanfaat!


(*Review Chapter 1: Taktis Menyunting Buku by Mr. Bambang Trim)


*GS-A3

Selasa, 12 April 2016

GREEN SCHOOL AWARD DAN FINAL LOMBA GURU UNGGUL INOVATIF SMA/MA SE-JAWA TENGAH 2016



Suasana auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes) agak berbeda hari ini (11/4). Tampak antrean peserta Seminar Nasional Pendidikan ‘mengular’ sepanjang lobi utama untuk registrasi kehadiran. Melihat antusiasme peserta, kegiatan yang diadakan atas kerjasama Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Profesi (LP3) Unnes dengan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini bisa dikatakan mendapat sambutan yang baik dari publik. Beberapa diantaranya berasal dari 100 pendaftar daring via laman lp3.unnes.ac.id, peserta PPG SM3T, dan mahasiswa program studi kependidikan dari berbagai fakultas di Unnes.

Selain seminar pendidikan, dilangsungkan pula pemberian penghargaan Green School Award (GSA) 2016. Penghargaan ini diberikan kepada sekolah yang berhasil memelihara dan melestarikan lingkungan sebagai sekolah sehat yang mempunyai nilai-nilai konservasi. Pemenang GSA 2016 adalah SMA Negeri 1 Bandar Batang, SMA N Ajibarang Kabupaten Banyumas, SMK 1 Adiwerna Kabupaten Tegal, SMA Negeri 1 Pati, SMA Negeri II Banyumas dan SMK Negeri 1 Temanggung.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Ka LP3 dan dilanjutkan oleh rektor. Setelahnya, acara seminar dimulai dengan moderator Dr. Ismiyanto (sepertinya dari Fakultas Ilmu Pendidikan [FIP] Unnes). Paparan materi mengenai kesiapan guru dalam era MEA dan pendidikan keberlanjutan disampaikan oleh Dr. Adam dari Dirjen GTK yang mewakili Direktur GTK yang hari ini berhalangan hadir. Menurut saya, cara penyampaiannya kurang komunikatif sehingga agak bosan berlama-lama mendengarkan. Untung sesi pemaparan materi tidak terlalu lama. Sesi tanya jawab dimulai dengan total enam penanya dari unsur guru, dosen Unnes, dan peserta PPG SM3T. Sesi Tanya jawab cukup menarik dan saya mendapatkan beberapa info mengenai kondisi yang dihadapi ketiga unsur tersebut. Misal terkait pemberian beasiswa S3 bagi guru, evaluasi pembelajaran dengan Kurikulum 2013, jam mengajar guru tersertifikasi, Guru Garis Depan (GGD), hingga kegalauan langkah berikutnya para peserta PPG SM3T tahun ini.

Setelah sesi istirahat dan salat. Acara dilanjutkan dengan Final Guru Unggul Inovatif SMA/MA Se-Jawa Tengah 2016. Setiap tahun Unnes rutin mengadakan lomba ini, namun baru kali ini aku turut menyaksikan. Istimewanya lagi, sesi ini kusaksikan bersama mahasiswa mata kuliah Pengajaran Mikro. Dengan menyaksikan acara ini, kiranya ada pemodelan inovasi guru dalam mengajar sebagai bekal mereka saat mengajar nanti. Berharap pula, beberapa tahun ke depan, mahasiswa-mahasiswaku inilah yang akan menjadi finalis. Aamiin.

Finalis terbaik yang tampil hari ini berjumlah lima guru. Mereka mengampu mata pelajaran yang berbeda-beda. Ada yang mengajar Kimia, Sejarah, IPS, bahasa Indonesia, dan Fisika. Aku membekali mahasiswa dengan lembar observasi mengajar, sehingga mereka dapat turut melakukan pencermatan, bagian dari proses pembelajaran mana yang sudah/belum muncul  sekaligus memberi penilaian dengan rentang skor 1-5. Sesekali kami berdiskusi, memberi komentar, dan menanggapi. Seru sekali. Namun rentang waktu @25 menit membuat kami agak lelah pula berlama-lama. 15 menit terakhir dari finalis kelima, akhirnya menyerah, keluar! Over all, saya mendukung finalis nomor 2. Beliau ialah ibu Dwi Hastuti, M.Pd. dari SMA Negeri 1 Rembang. Penampilannya ruarrrrr biasa tenang, sangat tenang! Pola mengajarnya tertata, ora grusa-grusu namun cekatan. Inspiratif!

*Belajar baik dari siapapun! w/love

Selasa, 15 Maret 2016

-KAMU BEGITU-


Berita berima kadang tak sebagus yang dinyana

Iya, sirik dan baiknya orang bisa saja kumpul semuka

Agak kaget memang, namun harus mulai terbiasa

Bahwa muka dipinjam untuk sesuatu yang tak ada sangkut pautnya

Pinjam, iya, pinjam untuk ditampar

Seolah bisa mental pada sasaran

Tidak sakit tapi kecewa

Begitu mudah menghalalkan cara

Siapa tuhanmu?

Apa iya mengajarkan begitu?

Ayolah, menualah dalam hening

Hening hati untuk lebih bijak

Seperti dengung lisan dalam tulis pada status-statusmu

Kutunggu!

*GS A/3

Sabtu, 23 Januari 2016

RISOLES, KROKET, DAN PASTEL: JAJAN PASAR TIPE ROUGOUT



Guys, kali ini laporannya soal kuliner nih. Ahaaa, jarang-jarang nih aku bikin review aktivitas soal masak-memasak karena emang jarang masak, haha. Sepertinya Kamis (7/1) kemarin emang bener-bener lagi “terdampar”. Cerita singkat, hari itu aku sudah daftar ikutan trip kerennya komunitas IIDN Semarang dan blogger Gandjel Rel Semarang ke Jogja. Jadwalnya sih akan mengunjungi penerbit Bentang Pustaka dan Stilleto. Kebayang serunya sih, soalnya bukan 1-2 buku terbitan Bentang yang kubaca. Kuyakini banyak pengalaman super keren yang bisa didapat, namun apa daya. Waktunya yang ada di tengah minggu membuatku tidak bisa berbuat banyak, serba salah. Kalau Kinas ditinggal seharian, rasanya eman dan kasihan. Kalau ditinggal di rumah mbah di Klaten, rasanya ribet juga karena 1 hari sebelumnya sudah harus standby di Klaten. Walhasil, batal!

Rabu sore, setelah kepastian tidak bisa ikut ke Jogja, eh “cliiiiing” baca status bbm salah satu teman. Dia nih pemilik Deloricate Catering, mb Ciwie namanya. Dalam statusnya dituliskan kalau esok hari akan diadakan pelatihan membuat jajan pasar (Risol, Kroket, dan Pastel), namun keterangan dalam kurung: full seat! Beuhhh, telat deh! Pikirku. Tak kurang upaya, segera ku kirim pesan bila aku ingin ikut dan mohon diperkenankan untuk “nyusul” peserta lain. Sempat direkomen untuk ikut yang tanggal 17 Januari, tapi kubilang belum tentu free dan kalau yang ini pas bisa mengapa harus ditunda, haha. Dannnnn: boleh! Yuhuuu

Sebelumnya sudah ada bayangan sih soal pembuatan ketiga jenis jajanan ini, walau belum pernah buat, namun pernah bikin “sodara”nya mereka yaitu PANGKRING, ada yang tahu? Isiannya sama namun balutannya crackers. Eh tapi itu sudah bertahun-tahun lalu yeaaaa, haha. Selain itu, memang ingin mengisi waktu dengan sesuatu yang beda saja. Mulai menumbuhkan jiwa masak lagi (hahaha) dan yang paling utama nyiapin diri kalo nanti bawain bekal makanan/jajan pas Kinas sudah masuk sekolah.

Hari H – jreeeeng – sudah siap berangkat, malamnya sempat diberi denah oleh mb Ciwie. Dannn seperti biasa, aku bingung pemirsaaaa! Mana itu perumahan Plamongan Indah, mana itu Pedurungan, mana itu Penggaron, haha. Segera kukirim foto denah itu via Line ke suami. Beliau memberi penjelasan, namun aku tetap angkat tangan, hehe. Putusan akhir: taksi! Suami rekomen Kosti, namun daripada ribet kutelepon lah blue bird, yang lebih sering kupakai. Begitu masuk taksi, si driver dengan yakin mengatakan tahu Plamongan Indah. Lega. Namun, agak kusut juga karena selain akhirnya sedikit telat, muter-muter di Kedung Mundu, agak sok ngasih alternatif jalan, ehhhh tetap saja 100rb lebih. Hahhhhh!

Rumah mungil di Blok E4 No. 36 ini ialah rumah produksinya Deloricate Catering. Tidak nampak banyak perkakas dan sekilas seperti umumnya rumah-rumah di sekitarnya. Hanya terlihat oven besar di bagian kanan teras dan seperangkat kompor di depannya. Peserta lain sudah menunggu dan siap menerima pelatihan. Dari perkenalan awal, kutahu ada yang sudah biasa mengelola bisnis makanan dan ada pula yang awam (termasuk akyuu tentunya), haha.
Mb Ciwie, selaku mentor dibantu mb Siti yang kesehariannya membantu memasak untuk kebutuhan order kateringnya. Setahuku, beliau juga mentor di komunitas NCC Semarang, semacam komunitas memasak gitu lah, dimana aku juga masuk sebagai anggota. Tahap awal, mb Ciwie memberi kami copy ringkas ketiga resep tersebut. Diriku tulis ulang di sini ya, sekalian sebagai catatan juga kalau-kalau tuh kertas “menghilang”, hehe.
1.  RISOLES (Sekitar 80 pcs)
ISIAN
Bahan:
750 gr wortel potong dadu
250 gr kentang potong dadu
250 gr daging ayam cincang (bisa juga daging sapi atau kornet, bisa plus putih telur pula)
Daun bawang dan seledri
Air secukupnya
Bumbu:
10 butir bawang putih cincang
10 butir bawang merah cincang
100 gr susu bubuk (dancow - recomended)
200 gr tepung terigu serbaguna (segitiga – recomended)
150 gr gula pasir
1 sdm merica bubuk (Ladaku – 2bks)
Penyedap rasa (Royco – 1bks)
Garam secukupnya
Cara Membuat:
a.    Tumis bawang putih dan merah dengan minyak, sampai harum dan layu.
b.   Masukkan wortel dan kentang, tambahkan air, masak sampai matang dan empuk.
c.    Bubuhi merica bubuk, gula pasir, dan garam.
d.   Masukkan daun bawang dan seledri.
e.    Campur tepung dan susu bubuk jadi satu (kering), setelah air menyusut masukkan.
f.     Aduk rata dan dinginkan.
KULIT
Bahan:
500 gr tepung protein tinggi (Cakra – recomended)
500 gr tepung protein sedang (Segitiga – recomended)
10 butir telur ayam
2500 ml air
3 sdm garam
20 sdm minyak goreng
Cara:
a.    Campur semua bahan menjadi satu, mixer dengan kecepatan tinggi, aduk rata.
b.   Dadar adonan kulit dengan panic Teflon, olesi sedikit minyak goreng.
c.    Ambil 1 centong adonan, dadar dengan api kecil. Setelah kulit sedikit mengelupas, hentakkan keluar. Begitu terus hingga adonan habis.

2.  KROKET
Kulit:
2 kg kentang, kupas kulit, potong dadu. Goreng.
50 gr susu bubuk
1 sdm merica bubuk
3 butir kuning telur
Gula secukupnya
Royco secukupnya

Isian: rougout ayam wortel=resep isian risoles, rougout ayam sayur
Bahan Pelapis: putih telur dan tepung panir

Cara Membuat:
1.   Goreng kentang sampai matang, kemudian haluskan.
2.   Masukkan susu bubuk, merica, dan kuning telur. Aduk rata.
3.   Ambil sedikit adonan kentang, pipihkan. Isi dengan rougout ayam sayur, bentuk lonjong atau bulat.
4.   Gulingkan ke tepung panir. Celupkan dalam putih telur. Gulingkan lagi ke tepung panir, lakukan sampai habis.

3.  PASTEL
Isian:
500 gr wortel potong dadu
500 gr kentang potong dadu
500 gr putih telur kukus (telur utuh bisa juga)
250 gr ayam cincang atau giling
100 gr mi bihun seduh
5 sdm terigu (serbaguna) untuk mengentalkan
Air secukupnya
Seledri dan daun bawang secukupnya

Bumbu:
7 butir bawang putih cincang
7 butir bawang merah cincang
1 sdt merica bubuk
Garam secukupnya
1 sdm gula pasir

Cara Membuat:
1.   Tumis bawang putih dan merah dengan minyak, sampai harum dan layu.
2.   Masukkan ayam cincang, wortel, dan kentang. Tambahkan air. Masak hingga matang dan empuk.
3.   Bubuhi dengan merica bubuk, gula pasir, dan garam.
4.   Masukkan daun bawang dan seledri. Cicipi.
5.   Setelah air menyusut, masukkan tepung, aduk sampai rata. Dinginkan.

Bahan Kulit:
900 gr tepung serbaguna (segitiga recommended)
300 gr margarine
3 butir telur. Kocok lepas.
Royco setengah sachet.
225 ml air (sedikit-sedikit)
1 sdt kaldu bubuk
Aduk semua bahan hingga kalis.

Yaps, lengkap kan?
Selain mengamati mb Ciwie memeragakan cara pembuatannya, para peserta juga diwajibkan praktik langsung. Rugi sendiri deh kalau enggak nyoba, hehe. Acara diakhiri dengan foto bersama, mencicipi (udah dari proses bikin, aku udah “netheli” sih, haha), dan sisa hasilnya kami bagi rata untuk dibawa pulang. Seruuuu, tambah ilmu, tambah teman! Kali lain, aku request ke mb Ciwie atau NCC untuk ngadain pelatihan bikin kue kering. Asyik kan kalau ngemil kue buatan sendiri, heuheu!

*Kapan praktik sendiri di rumah? Sik, entar-entar aje! #Kabuuuur!

GS A/3 --- 00.51 WIB