Minggu, 04 Desember 2016

Gempa Literasi! (Salam Pembuka)

2012. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Selamat datang dini hari... :)

Mengeja salam pembuka dari duo penulis buku Gempa Literasi, Gol A Gong dan Agus M. Irkham, ini seakan mendapati sweemangat yang meluap dan siap untuk "digelontorkan" kepada pembaca! Iya, apalagi kalau bukan soal dunia literasi dan perkembangannya di Indonesia. Tak tanggung, buku yang diklaim sebagai -buku sakti pegiat literasi- ini berisi 99 esai mengenai dunia buku, perpustakaan, komunitas literasi, budaya membaca dan menulis, dan Taman Bacaan Masyarakat. Asupannya kuyakini bukan hasil jerangan semalam, apalagi bentuk laku imajiner yang duduk persoalannya masih perlu diraba arah tujuannya. Duet ini ialah tokoh literasi di dunia nyata melalui Rumah Dunia di Serang Banten. Dari sanalah virus "gempa literasi" terus ditebarkan hingga hari ini! 

Literasi bukan semata-mata soal buku. Pemaknaan terhadap literasi terus berkembang dinamis. Boleh dibilang, sedinamis kehidupan yang menyertai pembicaraan soal literasi itu sendiri. Sampai pada kalimat ini, aku teringat seorang mahasiswa yang menghubungi via pesan singkat beberapa hari yang lalu. Dalam posisi sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia bertanya: "bu Santi, kalau saya hanya punya waktu sekitar 4 minggu untuk menggiatkan budaya literasi masyarakat di wilayah pelosok ini, apa yang harus saya lakukan selain membuat taman bacaan?". Pembahasan kami tentang ini cukup lama kemudian. Tentu, ku awali dengan penjelasan bahwa literasi (juga) bukan melulu soal aktivitas membaca! 

Perkembangan literasi diteropong dari dua sisi: konsepsi dan praksis. Sisi konsepsi memberikan pemahaman tentang urgensi "melek literasi", selain terdesaknya kebutuhan akan terbentuknya masyarakat pembelajar (learner society) yang lahir dari rahim masyarakat pembaca (reader society). Adapun dari sisi praksis, literasi dimaknai sebagai pijakan peningkatan kapabilitas seseorang, misal adanya progres cara berpikir kritis dalam melakoni perjalanan hidupnya.

Deretan 99 esai dalam buku ini tentu akan genap sempurna secara substansial, bila pembacanya bersedia memanfaatkan informasi di dalamnya untuk hal baik. Menyitir ungkapan Rendra bahwa butuh 3 syarat utama dalam melakukannya: cinta kasih atau api peduli, keterlibatan, dan sesuai nilai-nilai universal. Kepedulian sangat penting, namun belumlah cukup. Peduli baru sekadar interpretasi dari simpati yang perlu diejawantahkan menjadi empati. Bila rasa itu sudah ada, maka keterlibatan akan menjadi sebuah kesadaran yang berujung pada komitmen. Peneguhan terhadap komitmen tersebut, perlu disesuaikan dengan nilai-nilai universal berupa kejujuran, kesabaran, pantang menyerah, dan bersungguh-sungguh. Mari!


*book-lovers problem: never realising how many books you have until you have to move them!
#Graha Sartika A/3 #04.12.2016 #01.49